Postingan

Menampilkan postingan dengan label budaya

KEBOAN ALIYAN, RITUAL ADAT KUNO YANG MAMPU BERTAHAN RATUSAN TAHUN

Gambar
Rogojampi. Minggu pagi (16/9) suasana desa Aliyan kecamatan Rogojampi Banyuwangi nampak lebih ramai dibandingkan biasanya, rumah-rumah dihiasi dengan gapura bambu dan janur kuning, juga membunyikan lagu-lagu tradisional lewat pengeras suara, nampak juga sejumlah warga menggelar tikar dan tumpeng di jalan desa. Bukan tanpa alasan warga desa Aliyan melakukannya, tak lain adalah untuk ritual adat tahunan Keboan , yang diadakan setiap Awal bulan Suro pada penanggalan jawa. Acara pagi itu diawali dengan syukuran di jalan desa yang dipimpin langsung oleh tokoh agama setempat lewat pengeras suara yang ada di masjid. Seolah tanpa dikomando puluhan warga tiba-tiba kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Badannya kaku dengan tangan mengepal di dada. merekapun berlari mencari kubangan yang telah disediakan sebelumnya oleh warga desa di ikuti oleh anggota keluarga yang lain yang yelah siap dengan membawa ember berisi air bersih untuk membersihkan kepala anggota keluarganya yang kerasukan. Di...

GESAH REMBUK SEJARAH DESA ALIYAN

Gambar
Anton Sujarwo, SE. Kepala Desa Aliyan ROGOJAMPI- Sabtu malam 8/9 suasana Desa Aliyan kecamatan Rogojampi ramai oleh masyarakat desa setempat guna acara Gesah Rembuk Sejarah Desa Aliyan yang digagas oleh Kepala Desa Aliyan ini dihadiri sejumlah Anggota komunitas Blambangan Kingdom X-Plorer (BKX), Banjoewangi Tempoe Doeloe (BTD), budayawan Banyuwangi Fatah Yasin Noor, Gus Reza cucu dari pendiri ponpes Cemoro Songgon serta seluruh elemen masyarakat dan pemuda Desa Aliyan. Dalam pemaparannya Aji Wirabhumi dari komunitas BKX mengatakan, bahwa dari pelbagai sumber catan kuno ada beberapa poin terbentuknya Desa Aliyan. Pertama terbentuknya Desa Aliyan ada bebarengan dengan Hijrahnya Mas Raka/ Prabu Tawangalun II dari Kuthadawung (paleran, Umbulsari, Jember) kepetapaan Bayu dan Mendirikan Kutha Macan putih pada kisaran tahun 1655-1661, disaat itu masih bernama Alihan Kedua, Alihan pada saat perang Bayu 1771-1774 dipimpin ki oleh Ki Kidang Garingsing dan Ki Girisena....

KURANGNYA PERHATIAN MEMBUAT SITUS CAGAR BUDAYA TERBENGKALAI

Gambar
SEMPU- Dalam eksplore tim komunitas pencinta sejarah Blambangan Kingdom X-plorer (BKX)di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu kemarin (8/7), tim ini mengujungi salah satu peninggalan cagar budaya di Dusun Krajan yakni di situs Shiva Lingga. Namun setelah sampai dilokasi situs tim BKX di buat prihatin dengan kurang terawatnya situs ini karena dilokasi sangat dipenuhi oleh tanaman semak belukar yang cukup tinggi. Wahid salah seorang anggota tim BKX mengatakan bahwa seharusnya tempat cagar budaya tidak seperti ini. terlebih situs ini sudah dilindungi undang undang cagar budaya oleh pemerintah pusat. Wahid menambahkan dengan kurang terawatnya situs ini membuat cepat rusaknya batu bata kuno yang dilokasi, terlebih usia situs lebih dari 1000tahun, karena situs ini adalah sebuah candi yang diduga peninggalan dari Maha Rhsi Markandya pada abad ke 7 masehi dalam menyebarkan ajaran Hindu sebelum mencapai pulau bali. Lebih lanjut ditambahkan oleh Wahid, dengan kondisi semacam ini akan men...

ASAL USUL DESA KRADENAN

ASAL USUL DESA KRADENAN Oleh: Mas Hidayat Aji Wirabhumi *Raden Purawijaya* Sekitar tahun 1760an, pemerintahan Pangeran Jingga Danuningrat (1736-1763) di Kerajaan Blambangan tengah menghadapi ketidakpercayaan dari rakyatnya sendiri akibat Sang Raja mulai bekerjasama dengan kompeni Belanda yang bermarkas di Surabaya dibawah pimpinan Gezaghebber Hendrik Breton. Sejak itu, rakyat mulai mendukung adik sang raja yaitu Patih Agung Wilis untuk menjadi raja yang baru. Melihat rasa cinta Masyarakat terhadap Pangeran Agung Wilis yang sangat anti terhadap kompeni Belanda, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Petrus Albertus van der Parra memerintahkan agar sesegera mungkin Blambangan ditaklukkan. Saat itu memang seluruh kerajaan-kerajaan di Jawa telah takluk pada kompeni Belanda, dan hanya tinggal Blambangan saja yang masih merdeka. Untuk melaksanakan perintah atasannya, Gezaghebber Hendrik Breton memerintahkan kepada Kapten Ferdinand Carel van Hogewitz, penguasa Loji Pasuruan, agar bekerjasama ...

KILING BLAMBANGAN ( Warisan Leluhur dari Buyut Wongso Karyo)

Gambar
Kiling (baling-baling) sudah bukan barang baru bagi masyarakat Blambangan (terutama di Banyuwangi). Sampai saat ini, Kiling masih sering digunakan sebagai hiburan bagi masyarakat yang khusus hoby menggunakan Kiling. Dari berbagai Exppedisi, Kiling banyak di lihat di seputaran Macan Putih, Kemiren, Glagah. Kiling ini memerlukan biaya yang cukup fantastis. Pembuat Kiling akan mengeluarkan biaya minimal 2,5 juta rupiah. Bahkan bisa lebih besar tergantung pada bahan dan ukuran. Namun dibalik hoby ber-kiling-kiling ria, Kiling memiliki nilai historis. Kiling berkaitan erat dengan berdirinya Kerajaan Blambangan terutama di Macan Putih. Kiling ini erat kaitannya dengan Buyut Wongso Karyo yang menjadi penasehat utama Prabu Tawang Alun ketika memerintah di Kerajaan Macan Putih. Buyut Wongso Karyo sendiri belum tahu pasti keturunan dari siapa. Menurut juru kunci adat di wilayah Cungking, Wongso Karyo kecil mendapat tugas dari yang diikuti (entah orang tua atau induk semang) untuk menjaga sawah...

GANDRUNG MARSAN (Gandrung Lanang Blambangan)

Gambar
Gandrung Marsan merupakan gandrung terakhir untuk penari lanang (laki-laki) sekitar tahun 1890 (menurut sumber mbah google). Ini berarti (sebenarnya) gandrung lanang sudah eksis sebelum tahun tersebut. jika di telusur sesuai denga riwayat perang Blambangan (berdasar buku karya M. Aji Ramawidi) perang Blambangan terus berlanjut sampai dengan tahun 1815. Menurut cerita gandrung memiliki peran penting dalam Perang Blambangan. Berdasarkan diskusi tim BKX dalam pembahasan khusus tarian yang eksis pada masa itu ada beberapa asumsi yang bisa diambil sebagai kesimpulan : 1. Tarian yang menjadi cikal bakal tarian modern memang sudah ada pada masa kerajaan Blambangan. Kenapa? Tarian diciptakan pada masa damai. Jadi kemungkinan kecil ketika pada masa perang sempat menciptakan tarian. Selain itu tarian dalam pertunjukan/ritual dengan dua fungsi. Pertama, fungsi hiburan yang ditampilkan pada waktu ada pisowanan agung atau pada momen pesta. Fungsi kedua, memiliki peran spiritual pada momen terten...

SAYEMBARA MENANGKAP SAYU WIWIT

Gambar
Perang Semesta Blambangan II yang terjadi tahun 1771-1774, adalah salah satu perang terberat yang dialami Belanda saat menjajah Indonesia. Perang yang terjadi di ujung timur Jawa tersebut, jauh sebelum Perang Diponegoro berlangsung. Ini adalah perang yang tak hanya menguras biaya besar, tapi juga menelan korban jiwa sangat banyak. VOC mengerahkan 10 ribu personil, dilengkapi senjata canggih termasuk alat-alat berat. Sekitar 72.000 penduduk Blambangan tewas. 1.600 prajurit Bali pro-Blambangan juga tewas Belanda juga harus kehilangan 77.262an serdadu pribumi, dan 3.032an tentaranya sendiri. Tidak hanya itu, Belanda juga harus menguras kasnya dalam-dalam. Biaya perang yang harus dikeluarkan Belanda selama memerangi Blambangan sangat mahal setara 8 ton emas atau Rp. 4.543.811.824.000 jika dirupiahkan dg nilai saat ini. Biaya perang yang sangat fantastis untuk ukuran waktu itu. Belanda memang kerepotan untuk menaklukkan Blambangan yang saat itu dikomando oleh Mas Remp...

GANDRUNG, TARIAN PEMBUKA PERANG

Gambar
ilustrasi gandrung lanang Oleh: Mas Aji Wirabhumi_BKX Di Bayu, untuk menarik rakyat yang simpati dan setia pada Agung Wilis, Bapa Endha/Keboundha mempropagandakan bahwa Mas Rempeg telah dirasuki ruh Agung Wilis. Dengan itu, maka seruan Mas Rempeg agar seluruh penduduk Blambangan mau berjuang bersamanya di Bayu disambut dengan sangat antusias. Bahkan desa-desa di Sentong/ Bondowoso sampai kosong karena ditinggalkan oleh penduduknya ke Bayu. Propaganda berhasil menggalang rakyat Blambangan berbondong-bondong menyusul ke hutan Bayu. Prosesi pengumpulan rakyat sisa-sisa pengikut Agung Wilis ini juga dilakukan dengan hiburan rakyat berupa tari-tarian yang dilakukan oleh para lelaki. Kemudian tarian itulah yang kini menjadi Tari Gandrung khas Banyuwangi. Diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu dalam Suluk Balumbung, sedikit tentang tari-tarian yang dilakukan para lelaki untuk mengumpulkan orang-orang desa, guna diajak ke Bayu sebagai penggalangan masa persiapan Peran...

BLAMBANGAN MEMBARA I

Gambar
novel tanah semenanjung Pendahuluan: Tulisan ini terinspirasi novel TRI LOGi SEMENANJUNG, buah karya PUTU PRABA DRANA, dan juga buku para sejarahwan DR. Sri Margana, Drs I Made Sudjana MA, Hasan Ali. Pendahuluan desertasinya Doktor di Leiden University Sri Margana (dosen sejarah UGM ) Java’s Last Frontier. The Struggle for Hegemoni Blambangan yang sangat menggilitik yang menulis: The foundation of this study is fairly simple qoestion; Why did such a long time (aproximately forty years) to incorporate this region succesfully in to the VOC Administration. Selanjutnya DR Sri Margana menuliskan: …penduduk di kawasan itu (Blambangan) berkeras menolak pemerintahan Belanda, dan terlibat dalam pertarungan panjang melawan VOC hampir hampir mengorbankan segalanya untuk mempertahankan idealisme mereka. Kemudian pada paruh akhir abad ke 18 Inggris menambah panas situasi tersebut ketika mulai mengusik kawasan ini dalam rangka mencari komoditas alternatif untuk diperdagangkan ke China. Betap...

MELACAK SANG MENAK JINGGO

Gambar
LEGENDA DAMARWULAN MENAK JINGGO Tersebutlah seorang ratu bernama Dewi Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana Wungu (Suhita: tahun 1429-1447). Ia adalah penguasa Kerajaan Majapahit yang ke-6. Pada era pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Trowulan. Salah satu kerajaan yang menjadi taklukan Majapahit adalah Kerajaan Blambangan yang terletak di Banyuwangi. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang bangsawan dari Bali, bernama Adipati Kebo Marcuet. Adipati ini terkenal sakti dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya seperti kerbau. Keberadaan Adipati Kebo Marcuet ternyata menghadirkan ancaman bagi Ratu Ayu Kencana Wungu. Meskipun hanya seorang raja taklukan, namun sepak terjang Adipati Kebo Marcuet yang terus-menerus merongrong wilayah kekuasaan Majapahit membuat Ratu Ayu Kencana Wungu cemas. Ratu Majapahit itu pun berupaya menghentikan ulah Adipati Kebo Marcuet dengan mengadaka...

TUJUAN PALING JELAS TENTANG DIBUATNYA CRITA DAMARWULAN MENAK JINGGO

Gambar
Cerita tentang Damarwulan Vs Menak Jinggo selama ini danggap sebagai sinisme dan delegitimasi MATARAM terhadap raja Blambangan. Cerita yang ditulis dalam SERAT KANDHA atau SERAT DAMARWULAN itu berawal dari abad ke-19. Ditilik dari isi­nya, serat ini bersumber pada kitab babad tradisi pesisiran. Serat Kanda berisikan sejarah dinasti Mataram yang bercampur mitos dan legenda (tidak disebutkan tahun kejadiannya). Sekitar tahun 1852/1853, seorang wanita berpengaruh dalam jajaran pejabat tinggi Belanda yang baru tiba di Semarang meminta diterjemahkan SERAT KANDA dalam bahasa Belanda. Cerita itu kemudian dipentaskan dalam sebuah karya seni di Mangkunegaran (salah satu pecahan Mataram) pada masa kekuasaan Adipati Mangkunegara IV, Raden Mas Sudira, yang berkuasa tahun 1853-1881. ____________ Catatan: Mataram Runtuh 1755, jadi itu ditulis jauh-jauh hari setelah MATARAM RUNTUH. _____________ Setelah Adipati Mangkunegara IV mangkat tahun 1881, Belanda menempatkan salah satu puteranya yg ...

NASIBMU KEBO MANCUET

Oleh: Mas Aji Wirabhumi Ada cerita rakyat dari Banyuwangi. Tentang Damarwulan dan Menakjinggo. Tapi sebelum cerita itu, ada sepenggal kisah pengantar, yg nyaris dilupakan orang... ____________________ Tersebutlah seorang ratu dari Majapahit bernama Dewi Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana Wungu. Ia adalah penguasa Kerajaan Majapahit yang ke-6. Pada era pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Trowulan, itu. Salah satu kerajaan yang menjadi incaran Majapahit adalah Kerajaan Blambangan yang dipimpin oleh Adipati Kebo Marcuet. Adipati ini terkenal sakti dan Ratu Majapahit itu pun berupaya menundukkannya dengan sebuah sayembara... "Barangsiapa yang mampu mengalahkan Adipati Kebo Marcuet, maka dia akan kuangkat menjadi Adipati Blambangan yang baru, menggantikan dia." Demikian maklumat Ratu Ayu Kencana Wungu yang dibacakan di hadapan seluruh rakyat Majapahit....

RANGGASATATA

Gambar
photo by: moh syaiful 1736, Mas Sepuh alias Pangeran Jingga Danuningrat naik tahta. Saat itu di Blambangan terdapat 3 kubu yg saling berebut pengaruh. ~> Mas Sutanagara dr kubu Blambangan Fanatik yg anti Bali n anti Kompeni. . ~> Mas Anom Sutajiwa dr kubu Pro-Kompeni yg didukung Banger, Madura, n Besuki. . ~> Sedangkan Agung Wilis selama ini dianggap sebagai kubu pro-Bali yg didukung Mengwi, Buleleng, dan Jembrana. . Demi keamanan Agung Wilis keponakannya, maka Gusti Agung Made Munggu, raja Mengwi menempatkan Ranggasatata putera I Gusti Dewa Kabakaba sebagai asisten Wilis. I Gusti Dewa Kabakaba adalah paman Wilis. Jadi Ranggasatata adalah sepupu Wilis. . Lalu secara bertahap, Ranggasatata naik pangkat sampai jadi Agulagul (panglima perang tertinggi). . 1763 Agung Wilis dipecat dr jabatannya sebagai Patih Amangkubhumi Blambangan karena intrik politik di kedaton Blambangan Hamuncar. Raja diadudomba melawan Patihnya. . Sejak itu tidak ada lagi jabatan ...