Postingan

PEPERANGAN MENJELANG HARI NATAL 1771

Gambar
PEPERANGAN MENJELANG HARI NATAL 1771 By. Mas Aji Wirabhumi Hujan turun disertai angin kencang di kaki Gunung Raung. Tanah longsor menyebabkan gempa. Setelah perang tertunda selama dua pekan, pada tanggal 13 Desember 1771, Komandan Ekspedisi VOC, Reijgers, berangkat menyerang Bayu bersama pasukannya dari kalangan tentara Eropa juga lebih dari 2.000 laskar Bangkalan, Pamekasan, dan Basuki. 14 Desember 1771, dipimpin Kapten Alapalap dan Kapten Wayan, penyerangan dimulai. Sementara di pihak Balambangan, ribuan jagabela siap menyongsong. Sayap kiri dipimpin oleh Bapa Keboundha, Ki Kebo Gagembol, Ki Tumbaktala, dan Ki Tumbakmental, sedangkan sayap kanan dipimpin oleh Ki Kidang Salendit dan Mas Jagalara. VOC melihat Benteng Bayu tak mungkin dihancurkan dengan meriam, Kapten Alapalap memerintahkan pasukannya agar menggali terowongan ke bawah benteng pada malam hari. Paginya jagabela Balambangan mengetahui hal itu dan menembaki mereka dari atas pohon, kemudian mengasapi mulut terowonga...

DIMANAKAH KEDATON WETAN?

Gambar
DIMANAKAH KEDHATON WETAN? By. Mas Aji Wirabhumi Ketika kita membaca Sejarah masa akhir Majapahit, banyak yang menyebutkan bahwa runtuhnya Majapahit berawal dari konflik Paregrek antara Kedhaton Kulon dengan Kedhaton Wetan, dimana Kedhaton Wetan selalu diidentikkan dengan Balambangan sehingga muncul kesan bahwa Balambangan adalah penyebab awal runtuhnya Majapahit. Kabar tentang adanya Kedhaton Wetan bersumber dari berita China dalam catatan Dinasti Ming bahwa pada tahun 1377 M ada dua kerajaan merdeka di Jawa yang mengirim utusan ke China yaitu utusan dari raja Wu-La-Pu-Wu yang oleh para sejarawan diartikan sebagai ejaan China untuk nama Hayam Wuruk. Dan satu lagi dari raja yang bernama Lao-Wang-Chieh yang oleh para sejarawan diartikan Bhre Wengker. Dan Bhre Wengker yang berkuasa sezaman dengan Hayam Wuruk ini adalah mertuanya sendiri yang bernama Wijayarajasa Dyah Kudamerta. Dalam catatan China yang diterjemahkan oleh W.P. Groneveld disebutkan bahwa Kaisar Ch’eng-tsu (berta...

DIMANA MENAK JINGGO?

DIMANA MENAK JINGGO? By. Damar Wulung & Mas Aji Wirabhumi Berbicara raja Balambangan, tentu tidak akan lepas dari sosok Menak Jinggo, Seorang raja Balambangan yg dianggap memberontak terhadap kekuasaan Majapahit karena menuntut sesuatu atas apa yang seharusnya menjadi Haknya, Menjadi Raja Majapahit dan sekaligus menikahi sang Ratu Majapahit Kencana Wungu. Namun demikian ternyata sosok ini tidak masuk dalam daftar raja raja Balambangan yg tercatat dalam sumber sejarah. Tokoh yang begitu dipercaya dan diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa Timur ini ternyata hanyalah tokoh fiktif. Tokoh yang hanya ada dalam lakon kesenian lokal... Berikut Daftar Raja Raja Blambangan versi sejarah Pasca Balambangan merdeka dari Majapahit (1478) : @Menak Sembar (1479-1489) @Menak Bima Koncar (1489-1500) @Menak Pentor (1500-1531) @Menak Pangseng (1531-1546) @Menak Pati / Dalem Shri Juru (1546-1575) @Menak Lumpat / Sunan Rabut Payung (1575-1639) @Menak Seruyu / Tawang Alun Nyakra (1639-16...

GESAH BARENG PERUPA DAN SEJARAWAN BLAMBANGAN

Gambar
Banyuwangi- Suksesnya pagelaran pameran lukisan patung dan fotografi bertajuk laras di Gedung Wanita Banyuwangi awal bulan lalu membuat panitia pagelaran mengadakan acara tasakuran dengan mengundang sejumlah perupa, budayawan dan sejarawan di Banyuwangi. Acara yang dihelat di Aula SMA NU Gombengsari tanggal 01 Desember 2019 ini diberi tajuk "Gesah Bareng Perupa Dan Sejarawan Blambangan" ini pun berlangsung Gayeng, Kent Ali selaku wakil panitia dan tuan rumah mengatakan bahwa acara ini digagas sebagai rasa syukur atas keberhasilan penyelenggaraan pameran lukisan bulan lalu, bahkan bisa dikatakan bahwa acara itu adalah acara tersukses dari acara serupa dari tahun tahun sebelumnya, oleh karena itu panitia berinisiatif membuat acara tasakuran. Dalam acara gesah ini dibuka oleh paparan Bhogi Bayu yang mengatakan bahwa Blambangan ini adalah sebuah kerajaan besar yang multi etnis sehingga wajar jika hingga kini ada beragam budaya yang berkembang di Banyuwangi yang merupakan b...

DAFTAR NEGARA KADIPATEN DI JAWA PASKA MAJAPAJIT DALAM CATATAN H.J. DE GRAF

Gambar
DAFTAR NEGARA KADIPATEN DI JAWA PASCA MAJAPAHIT DALAM CATATAN H. J. DE GRAF Oleh: Mas Aji Wirabhumi Banten Pajajaran Cirebon Pasir Demak (meliputi Tegal dan Semarang) Pati Juwana Kudus Jepara/Kalinyamat Pengging/Pajang Mataram Jipang Panolan Gagelang Medangkungan Tuban Lamongan Gresik Giri Surabaya Wirasaba Mamenang Blitar Sengguruh Madura Barat (Arosbaya dan Sampang) Pamekasan Sumenep Pasuruan Probolinggo Panarukan Blambangan (pedalaman timur) ____________________________________ BKX News Editor : Mas Anom Mahameru  Published :Nur Wahid Aziz Peta Ujung Timur Jawa By. Stutterheim

NEGERI-NEGERI JAWA SAAT KUNJUNGAN TOME PIRES 1513

NEGERI-NEGERI DI JAWA SAAT KUNJUNGAN TOME PIRES (Perkiraan Lokasinya) By: Mas Aji Wirabhumi Raja Cumda/Sunda: Samg Briamg (Sang Hyang/Surawisesa) Menguasai pelabuhan-pelabuhan: Bantam (Banten), Pomdag (Pontang), Chegujde (Cigede), Tamgara (Tangerang), Calapa (Sunda Kelapa/ Jakarta), Chemano (Cimanuk). Raja Jaaoa/Jawa: Batara Vojyaya/Batara Wijaya Pate Amdura Negeri Choroboam/Cirebon: Lebe Upa (bawahan Pate Rodim, Damaa) Negeri Japura/Losari: Pate Codia (bawahan Pate Rodim) Negeri Teteguall/Tegal: Pate ??? (Paman Pate Rodim) Negeri Semarang: Pate Mamet (ayah mertua Pate Rodim) Negeri Demaa/Demak: Pate Rodim (Pate tertinggi di Jawa) Negeri Tidumar/Tedunan: Pate Orob (Paman Pate Onus) dia tidak tunduk pada siapapun Negeri Japara/Jepara: Pate Onus (menantu Pate Rodim?) Negeri Ramee/Rembang: Pate Morob (Paman Pate Onus) Negeri Tubam/Tuban: Pate Vira Anatimao da Raja (bawahan Guste Pate Amdura) Negeri Cedayo/Sedayu: Pate Amiza (keponakan Pate Morob...

WORKSHOP PELESTARIAN TINGGALAN ARKEOLOGI BANYUWANGI

Gambar
BANYUWANGI- Tinggalan arkeologi di Banyuwangi memanglah sangat banyak mulai jaman pra sejarah sampai era kolonial. Hal ini yang meng ilhami Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi mengadakan workshop tentang peninggalan arkeologi di Banyuwangi. Bekerjasama dengan Balai Arkeologi (balar) Jogjakarta, Disbudpar mengundang berbagai elemen mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru sejarah sampai komunitas dan budayawan Banyuwangi. Workshop yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi M.Bramuda di pelinggihan dinas ini berlangsung meriah. Melalui sambutannya workshop ini di adakan selain untuk mengedukasi masyarakat adalah juha untuk menyambut wisata sejarah yang akan dilaksanakan mulai tahun depan. Dalam workshop ini di isi langsung oleh Kepala Balar Jogjakarta Bapak Sugeng Riyanto yang mengatakan bahwa Banyuwangi harusnya bisa berbangga karena banyaknya situs tinggalan arkeologinya sangat banyak, terlebih seperti yang sedang di eskafasi balar di s...

BABAD DESA TAMBONG

BABAD DESA TAMBONG Oleh : M. Hidayat Aji WR Tambong, sebuah desa di Kecamatan Kabat adalah satu dari beberapa nama Desa Tua di Kabupaten Banyuwangi. Setidaknya Babad Bayu menyebutkannya sebagai salah satu desa yang Bekel-nya ikut terlibat bersama Mas Rempeg dalam usaha mengusir penjajahan VOC-Belanda tahun 1771-1772 dalam Perang Bayu yang heroik itu. Dengan demikian, Tambong memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Dalam Kamus Bahasa Using Hasan Ali, Tambong adalah salah satu jenis Bambu, yakni Bambu Tambong. Mungkin dahulu, saat pertama kali pemuka desa yang babat alas di Tambong menemukan banyak bambu jenis tersebut di tempat ini. Bambu tersebut kemudian dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan sarana umum lainnya, termasuk sebagai jembatan yang menyeberangkan penduduk dari dan menuju Kutharaja Macanputih melalui sisi utara. Siapakah pembabat desa Tambong? Mungkin kita bisa mendapat petunjuk dari cerita rakyat setempat tentang tokoh bernama Ki Anggajaya, orang yang d...

FITNAH TERHADAP BALAMBANGAN (Bagian IV)

Gambar
Sebelum memasuki bagian keempat dari daftar Fitnah Terhadap Balambangan ini, perlu kiranya penulis ingatkan bahwa, segala apa yang kami tulis selama ini, sama sekali tidak untuk menyalahkan atau membantah asumsi mayoritas publik penggemar sejarah atau cerita atau bahkan mitos dan dongeng tentang Balambangan. Kami hanya mengajak berfikir saja, terhadap apa yang sama-sama kita cintai dan kita banggakan tersebut. Balambangan. Maka kali ini, kita akan membahas tentang Fitnah keempat. Fitnah paling lucu tentang Balambangan, dimana setelah sebelumnya Balambangan kita ini dituduh sebagai Penculik Gadis, Pencuri Keris, juga difitnah Tidak tahu Budi, dan difitnah sebagai sebab Runtuhnya Majapahit dalam Paregrek. Kesan yang dibangun adalah Balambangan musuh besar Majapahit. Begitu bukan? Disinilah lucunya. (4) Runtuhnya Majapahit 1478 (Brawijaya BUTUH bantuan Balambangan) Inilah cerita tentang runtuhnya Majapahit tahun 1478 yang kata Sejarawan Belanda Penjajah, hancurnya Majapahit karena sera...

HARJABA ATAU HARJAKABA ?

Gambar
Usia Banyuwangi sudah 247 tahun! Ini usia Kota Banyuwangi apa Kabupaten Banyuwangi? Kalau disebut HARJAKABA (Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi), mungkin benar. Tapi untuk disebut HARJABA, ah nanti dulu! Dalam tulisan ini, aku tidak bermaksud menggugat perayaan dan peringatan HARJABA, tidak. Sepenuhnya aku mendukung, dan buktinya aku selalu berusaha untuk bisa menghadiri event yg berkaitan dengannya. Walaupun kenyataannya yang kita peringati adalah HARJAKABA dan bukan HARJABA. Lalu apa beda HARJABA dengan HARJAKABA? Begini saudaraku. HARJABA 18 Desember 1771 ini menurut Suhalik dalam bukunya Lingkar Waktu, disepakati oleh para pemangku kepentingan kala itu sehingga identik dengan faktor perlawanan terhadap VOC agar lebih patriotik. Maka jatuhlah pilihan itu pada peristiwa kemenangan Mas Rempeg dalam salah satu babak Perang Bayu, 18 Desember 1771. Dari sini saja tidak ada hubungannya dg Berdirinya Kabupaten Banyuwangi yang menurut catatan De Jonge yang diamini oleh Sejarawan UGM Sri Marga...

FITNAH TERHADAP BALAMBANGAN (Bagian III)

Pada pembahasan sebelumnya kami telah memaparkan dua fitnah tentang Balambangan, yakni Balambangan difitnah sebagai penyebab runtuhnya Majapahit dalam Paregrek 1401-1406 dan Balambangan difitnah tak tahu terimakasih atas bantuan Syaikh Maulana Ishaq. Hari ini kita akan melihat dua fitnah lagi. Kali ini Balambangan difitnah sebagai pelaku kriminal. Adipati Balambangan dituduh mencuri keris pusaka Majapahit dan juga dituduh menculik salah satu Puteri Majapahit. Heran, kenapa juga para penulis jaman klasik suka banget meng-antagonis-kan Balambangan dalam karya mereka. Ceritanya begini. (3) Keris Pusaka Majapahit Dicuri (Balambangan Pencuri?) Kisah ketiga adalah kisah tentang hilangnya keris pusaka Majapahit, Kyai Sangkelat, yang katanya dicuri oleh Raja Balambangan yang entah siapa nama Raja Balambangan yg dituduh itu, karena pengarang cerita tidak menyebutkan nama. Yang jelas, kemudian raja Majapahit, yang lagi-lagi bernama Brawijaya, mengutus Mpu Supo untuk mencurinya kembali dari ...

FITNAH TERHADAP BALAMBANGAN (Bagian II)

Gambar
Fitnah kedua terhadap Balambangan kali ini seperti berusaha menunjukkan bahwa kerajaan di ujung timur Jawa ini seolah tidak tahu Budi. Ini adalah kisah tentang Syaikh Maulana Ishaq. (2) Syaikh Maulana Ishaq (Apa salah Syaikh Maulana Ishaq pada Balambangan?) Terdapat satu cerita tentang wabah yang melanda Balambangan sekitar abad XIV. Kisah ini dimuat dalam Babad Walisongo dan Babad Tanah Jawi. Dalam kisah itu, hadirnya Syaikh Maulana Ishaq adalah sebagai penolong penduduk Kadipaten untuk sembuh dari wabah. Disana dikisahkan bahwa Kadipaten Balambangan tengah diserang wabah lalu Adipati mengadakan swayamwara. Jadi sang Adipati MENGUNDANG siapapun yang bisa mengobati rakyat dan terutama puterinya yang juga terjangkit wabah. Singkat cerita, Sang Syaikh berhasil mengobati bukan hanya Puteri sang Adipati yang bernama Dewi Sekardadu atau Dewi Kasiyan itu, tapi bahkan seluruh rakyat Balambangan akhirnya tertolong. Dan sebagaimana janji sang Adipati sendiri, Sang Syaikh dinikahkan dengan S...

FITNAH TERHADAP BALAMBANGAN (Bagian I)

Gambar
Sejarah seharusnya membuat kita belajar dan sadar akan pentingnya mempersiapkan masa depan dengan lebih baik. Sejarah seharusnya memberi kita arah untuk menjadi lebih baik, lebih cerdas mengambil langkah di masa kini dan masa depan. Sejarah seharusnya menjadi sumber motivasi bagi siapapun yang mempelajarinya. Begitu pentingnya sejarah sampai-sampai dalam kitab suci 75% isinya adalah sejarah. Namun sayangnya karena kepentingan sesaat sejarah hanya menjadi alat untuk memperkuat dan melanggengkan kekuasaan, akibatnya tidak sedikit fakta-fakta yang tidak diungkap secara utuh, ada yang ditutup-tutupi, dimanipulasi, bahkan sengaja dihapus. Ada banyak kepentingan yang bermain dalam penulisan sejarah, terutama masalah politik. Demikian pula sejarah Balambangan. Pokok kalau Balambangan itu, harus salah dan harus kalah. Contoh... 1. Paregrek 1401-1406 (Balambangan penyebab hancurnya Majapahit?) Setiap kita membaca sejarah Majapahit, maka pada bagian akhir akan menemukan rangkaian kalimat yan...

SEJARAH DESA BENCULUK (Bagian 2)

Gambar
BENCULUK IBUKOTA TERAKHIR Pasca Perang Bayu 1771-1774, Belanda mengangkat Bupati Baru untuk Kabupaten Blambangan atau Blambangan Timur. Dalam buku Lingkar Waktu, Suhalik menyebutkan bahwa tanggal 7 Desember 1773 terdapat resolusi pengangkatan Mas Alit sebagai Adipati Blambangan oleh VOC, yang mana pusat pemerintahannya adalah di Benculuk. Mengapa di Benculuk, menurut Samsubur dalam buku Sejarah Kerajaan Blambangan, karena bupati sebelumnya yani Tumenggung Jakasanegara (1772-1774) berkedudukan di Benculuk, maka Mas Alit tinggal meneruskan dan menempati bekas kediaman Tumenggung Jaksanegara di Benculuk. Artinya, sebelum Mas Alit, Tumenggung Jaksanegara juga bertempat di Benculuk. Kantor Desa Benculuk Ibukota di Benculuk ini hanya sementara, karena oleh Gezaghebber Luzac dianggap terlalu jauh dari pantai dan terancam oleh sisa-sisa para pejuang Balambangan. Selanjutnya diusulkanlah tiga daerah sebagai calon ibukota baru: 1. Lateng, 2. Lopampang, 3. Pakisiram, Atau tempat la...

PARA PENGAWAL GUNUNG BAYU

Gambar
Balambangan telah kehilangan raja terakhirnya, setelah Pangeran Balambangan III Agung Wilis pada tanggal 18 mei 1768 tertangkap di Banyualit dan kemudian dibuang bersama puteranya, Mas Stradi, ke Banda. Namun hal itu bukan peperangan terakhir di Balambangan, justeru menjadi awal perang sporadik yang akan bertubi-tubi sampai 37 tahun kemudian. Keadaan yang sulit di Balambangan tersebut sampai membuat Gubernur Jenderal kompeni di Batavia, P.A. van der Parra meminta saran dari Pangeran Orange di Negeri Belanda. Dia mengatakan bahwa dirinya dan anak buahnya sudah tidak tahu lagi, apa yang harus mereka perbuat untuk menundukkan Balambangan. Seusai Agresi Militer kedua kompeni tahun 1768, Gezaghebber Joan Everard Coop a Groen kembali ke Surabaya. September 1769 dia tewas karena wabah aneh. Pengganti Joan Everard Coop a Groen sebagai Gezaghebber Surabaya adalah Hendrik Breton. Dia mengangkat Jacop Guttenberger dan Johan Gotlieb Jenengen sebagai Residen sementara di Balambangan yang menjabat...

SEJARAH DESA BENCULUK (Bagian 1)

Gambar
BUAHAN JOLOK DARI BENCULUK Oleh: M. Hidayat Aji WR. Jika ada nama desa yang benar-benar asli Blambangan dan tidak mengalami perubahan ejaan maupun tulisan, salah satu yang patut disebut terlebih dahulu diantara desa-desa tua itu adalah Benculuk. Hal ini karena semua catatan, baik catatan Lokal, catatan Belanda, catatan Bali, bahkan cerita lisanpun menyebutnya Benculuk. Walaupun orang Banyuwangen pengucapannya menjadi Bencolok, tetapi penulisanya tetap Benculuk. KESALAHAN DALAM CERITA TUTUR Dalam cerita rakyat disebutkan bahwa, desa ini disebut Benculuk berawal dari kisah Mataram Menaklukkan Balambangan. Pemimpin pasukan Mataram adalah Pangeran Mas Jolang (1601-1613) dan Juru Martani (lahir: ? - wafat: 1615). Sementara Balambangan dalam cerita itu disebutkan dipimpin oleh Prabu Siung Laut dan patihnya Jatasura. Diceritakan untuk melawan pasukan Mataram maka sang raja memerintahkan kepada Patih Jatasura dan Adipati Asembagus, Hario Bendung. Dalam pertempuran itu, Mas Jolang bersama ...

PANCASILA AGUNG

Gambar
Pancasila, pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila kemudian menunjukkan wibawanya, sebagai Soko guru tertinggi perundang-undangan di Indonesia. Hari lahirnya dirayakan setiap 1 Juni dan hari kesaktiannya juga diperingati setiap 1 Oktober. Pada tanggal 30 September 1965, enam Jenderal dan 1 Kapten serta berberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta gagal yang pada akhirnya berhasil diredam oleh otoritas militer Indonesia. Pemerintah kemudian menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Jauh sebelum itu, di Banyuwangi, di Balambangan tepatnya, peristiwa heroik berasaskan nilai-nilai ke-Pancasila-an pernah terjadi. Saat itu, Oktober 1767, rakyat Balambangan lintas suku, lintas...

LINTAS KOMUNITAS GELAR SARASEHAN DUKUNG WONG AGUNG WILIS JADI PAHLAWAN NASIONAL

Gambar
Banyuwangi- Berawal dari kegelisahan para pegiat sejarah di Kabupaten Banyuwangi tentang tidak adanya sosok pahlawan Nasional dari kota Gandrung, ahirnya beberapa komunitas pegiat sejarah megadakan sarasehan yang bertema "A dakah Sosok Tokoh Pahlawan Blambangan". Dan ahirnya Sarasehanpun sukses digelar pada hari kamis (20/9) di Pendopo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Banyuwangi. Acara yang dibuka oleh P. Choirul Ridho ini digelar pada pukul 13:30 WIB, terbukti mampu menarik hampir seratusan orang dari berbagai komunitas dan umum untuk menghadiri dan ikut serta dalam mengsukseskan pengajuan nama sosok tokoh pahlawan dari bimi Balambangan. Dalam paparan awal yang disampaikan oleh bapak Samsubur seorang sejarawan senior asal kecamatan Kalibaru mengatakan setidaknya ada tiga tokoh yang pantas dijadikan " Pahlawan dari  Bumi Balambangan", yakni Wong Agung Wilis, Mas Ayu (sayu) Wiwit, dan Mas Rempeg (pangeran Jogopati). tetapi yang paling lengkap datanya baik dar...

KEBOAN ALIYAN, RITUAL ADAT KUNO YANG MAMPU BERTAHAN RATUSAN TAHUN

Gambar
Rogojampi. Minggu pagi (16/9) suasana desa Aliyan kecamatan Rogojampi Banyuwangi nampak lebih ramai dibandingkan biasanya, rumah-rumah dihiasi dengan gapura bambu dan janur kuning, juga membunyikan lagu-lagu tradisional lewat pengeras suara, nampak juga sejumlah warga menggelar tikar dan tumpeng di jalan desa. Bukan tanpa alasan warga desa Aliyan melakukannya, tak lain adalah untuk ritual adat tahunan Keboan , yang diadakan setiap Awal bulan Suro pada penanggalan jawa. Acara pagi itu diawali dengan syukuran di jalan desa yang dipimpin langsung oleh tokoh agama setempat lewat pengeras suara yang ada di masjid. Seolah tanpa dikomando puluhan warga tiba-tiba kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Badannya kaku dengan tangan mengepal di dada. merekapun berlari mencari kubangan yang telah disediakan sebelumnya oleh warga desa di ikuti oleh anggota keluarga yang lain yang yelah siap dengan membawa ember berisi air bersih untuk membersihkan kepala anggota keluarganya yang kerasukan. Di...

TAWANGALUN II, TRUNOJOYO, KARAENG GALESONG - TRIO PENGHANCUR MATARAM

Gambar
TAWANGALUN, TRUNOJOYO, DAN KARAENG GALESONG (Trio penghancur Mataram) Pelarian Karaeng Galesong ke tanah Jawa dikarenakan kekalahan kerajaan Gowa oleh Belanda pada tahun 1669. Ia tidak ingin berada di bawah jajahan Belanda, karenanya memilih untuk meninggalkan tanah Gowa bersama beberapa kerabat kerajaan. Mereka antara lain Karaeng Tallo Sultan Harun Arrasyid Tumenanga ri Lampana dan Daeng Mangappa, saudara kandung Karaeng Tallo. Dua lainnya paling terkenal adalah Karaeng Galesong Tumenanga Ritappana, dan Karaeng Bontomarannu Tumma Bicara Butta Gowa. Kerajaan Gowa yang mahsyur berabad di kaki pulau Sulawesi itu, akhirnya takluk di moncong meriam Kompeni Belanda. Di daerah Bungaya, pada tahun 1667 I Mallombassi Daeng Mattawang, Sultan Hasanuddin bersimpuh pada klausul Bungaya (cappaya ri Bungaya) walau sangat merugikan kerajaan. 15 benteng di sepanjang pesisir selatan runtuh, petinggi kerajaan ramai-ramai tunduk pada Belanda. Sejarah menuturkan, perjuangan Karaeng Galesong berlanjut ...